Makalah Mahasiswa memiliki peran dalam membiasakan berbahasa Indonesia dari pada berbahasa alay di masyarakat
Makalah
Mahasiswa memiliki peran dalam
membiasakan berbahasa Indonesia dari pada berbahasa alay di masyarakat

Untuk
memenuhi tugas mata kuliah berbicara dialektik
dosen
pengampu : Syaiful Abid M.Pd
Disusun Oleh :
1.Huda Kurniwan (2019033)
Disusun Oleh :
1.Huda Kurniwan (2019033)
Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
LUBUKLINGGAU
2020
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
LUBUKLINGGAU
2020
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur semoga
selalu tetap tercurahkan kepada ALLAH SWT karena atas limpahan rahmat serta
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Mata Kuliah berbicara
dialektik untuk
membuat sebuah makalah tentang mahasiswa memiliki peran dalam membiasakan
berbahasa Indonesia dari pada berbahasa alay di masyarakat.
Saya sangat berharap
semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan berguna bagi saya dan
pembaca.Serta dapat menambah wawasan bagi kita semua.Serta terima kepada dosen
Bapak Syaiful Abid M.Pd sebagai dosen pengampu yang telah membantu dalam
pembuatan tugas makalah ini.
Saya menyadari
sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya, baik
dalam isi maupun sistematikanya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan
dan wawasan kami. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dan menambah pengetahuan bagi kita,Terima Kasih.
Lubuklinggau,1
Maret 2020
Penulis
Daftar Isi
Daftar isi
Bab I Pendahuluan...................................................................................................................... 4 A.Latar Belakang................................................................... ...................................................... 4 B.Perumusan Masalah................................................................................................ ....................5 C.Tujuan Penulisan................................................................................................ ........................5
Bab I Pendahuluan...................................................................................................................... 4 A.Latar Belakang................................................................... ...................................................... 4 B.Perumusan Masalah................................................................................................ ....................5 C.Tujuan Penulisan................................................................................................ ........................5
Bab II Pembahasan................................................................................................ .......................6
A.Pengertian bahasa.......................................................................................................................6
B.Makna Alay...............................................................................................
.................................7
C.Bahasa alay dalam
jejaring sosial...............................................................................................8
D.bahasa alay dalam
jejaring sosial yang marak di kalangan mahasiswa......................................9
E.Penggunaan Bahasa
Indonesia di Kalangan Mahasiswa............................ ...........................
....9 F.Dampak yang ditimbulkan dari bahasa alay
jika
mahasiswa tidak berperan membiasakan berbahasa Indonesia..................................................11
mahasiswa tidak berperan membiasakan berbahasa Indonesia..................................................11
G.Hal yang dapat dilakukan
mahasiswa agar bahasa alay tidak menyebar...................................12
H. Pemakaian bahasa Indonesia Pemakaian
bahasa indonesia memiliki ragam yang
bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi. ............................ ............................ ..................13
bahasa indonesia memiliki ragam yang
bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi. ............................ ............................ ..................13
I. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Variasi
“bahasa” Alay............................ .............14
J. Implikasi Variasi “bahasa” Alay terhadap
Perkembangan dan Pengembangan Bahasa Indonesia ............................ ................................15
Bab III Penutup............................ ................................... ..........................................................17
J. Implikasi Variasi “bahasa” Alay terhadap
Perkembangan dan Pengembangan Bahasa Indonesia ............................ ................................15
Bab III Penutup............................ ................................... ..........................................................17
Kesimpulan............................ ...................................
...................................................................17
Saran............................ ................................... .............................................................................17
Daftar Pustaka............................ ................................... ...............................................................18
Saran............................ ................................... .............................................................................17
Daftar Pustaka............................ ................................... ...............................................................18
BAB
I
PENDAHULUAN
A.Latar
belakang
bahasa merupakan instrumen terpenting dalam kehidupan manusia.Manusia tidak bisa hidup tanpa bahasa,baik secara lisan maupun tulisan .Bahasa sebagai alat komunikasi sosial dalam kehidupan manusia. Bahasa adalah simbol–simbol yang digunakan untuk menyatakan gagasan, ide dan perasaan orang kepada orang lain.Sejak lahir manusia sudah diajarkan berbahasa dalam kehidupan sehari-harimulai saat bagun pagi-pagi sampai menginjakmalam waktu beristirahat, manusia tidak pernah lepas memakai bahasa. Maka bahasa sangatlahberguna bagi manusia untuk melakukan aktifitasnya.Bahasa lisanmerupakan bahasa yang interaksinya secara langsung. Adanya bahasa lisan dapatdikaitkan dengan berbicara karena merupakan simbol dari bahasa lisan. Sedangkan bahasa tulisan merupakan bahasa yang digunakan secara tidak langsung ,seperti yang terdapat pada jejaring sosial bahasa tulisan melalui jejaring sosial yaitu situs pertemanan di facebook ataupun twitter.Pada zaman teknologi yang semakin maju ,mulailah bahasa lisan ataupun bahasa tulisan menjadi semakin naik daun terutama dalam hal gaya bahasa dijejaring sosial.Istilah bahasa tersebut adalah bahasa alay yang banyak digunakan oleh para remaja. Berkaitan dengan jejaring sosial macam facebook ataupun twitter yang merupakan bahasa yang banyak digunakan oleh manusia terutama kalangan remaja.Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan internet melalui jejaring sosial ini.
bahasa merupakan instrumen terpenting dalam kehidupan manusia.Manusia tidak bisa hidup tanpa bahasa,baik secara lisan maupun tulisan .Bahasa sebagai alat komunikasi sosial dalam kehidupan manusia. Bahasa adalah simbol–simbol yang digunakan untuk menyatakan gagasan, ide dan perasaan orang kepada orang lain.Sejak lahir manusia sudah diajarkan berbahasa dalam kehidupan sehari-harimulai saat bagun pagi-pagi sampai menginjakmalam waktu beristirahat, manusia tidak pernah lepas memakai bahasa. Maka bahasa sangatlahberguna bagi manusia untuk melakukan aktifitasnya.Bahasa lisanmerupakan bahasa yang interaksinya secara langsung. Adanya bahasa lisan dapatdikaitkan dengan berbicara karena merupakan simbol dari bahasa lisan. Sedangkan bahasa tulisan merupakan bahasa yang digunakan secara tidak langsung ,seperti yang terdapat pada jejaring sosial bahasa tulisan melalui jejaring sosial yaitu situs pertemanan di facebook ataupun twitter.Pada zaman teknologi yang semakin maju ,mulailah bahasa lisan ataupun bahasa tulisan menjadi semakin naik daun terutama dalam hal gaya bahasa dijejaring sosial.Istilah bahasa tersebut adalah bahasa alay yang banyak digunakan oleh para remaja. Berkaitan dengan jejaring sosial macam facebook ataupun twitter yang merupakan bahasa yang banyak digunakan oleh manusia terutama kalangan remaja.Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan internet melalui jejaring sosial ini.
Di samping itu,
perkembangan era globalisasi ini yang menuntut anak remaja selalu up
date juga disinyalir menjadi salah satu penyebab pesatnya penyebaran virus
alay. Nggak alay, nggak gaul. Hal ini dipengaruhi juga
oleh semakin berkembangnya teknologi, terutama berkembangnya situs
jejaring sosial, seperti facebook dan twitter .Dan semakin lama bahasa alay
tersebut terus berkembang dan berganti tren. Istilah bahasa baru tersebut
awalnya muncul pada tahun 2008,bahasa ini muncul dikalangan remaja, yang
disebut dengan bahasa “Alay”. Kemunculannya dapat dikatakan fenomenal, karena
cukup menyita perhatian. Bahasa baru ini seolah menggeser penggunaan bahasa
Indonesia dikalangan segelintir remaja. Sehubungan dengan semakin maraknya
penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh kalangan remaja dan sudah terdengar
norak dimasyarakat luas tapi masih saja digunakan para remaja untuk menulis
dijejaring sosial,sehingga perlu adanya tindakan dari semua pihak yang
peduli terhadap eksistensi kesantunan berbahasa.Dari sejak lahir hingga kini,bahasa
masih tetap terasa kesulitan untuk berbahasa yang indah dan santun.Modifikasi
bahasa dalam bentuk alay ternyata membawa sinyal ancaman
serius terhadap bahasa terutama dikalangan remaja.
Hal tersebut sangatlah memperhatinkan karena remaja
adalah generasi bangsa apabila bahasa mereka alay ini semakin marak maka akan
berdampak pada bahasa yang tidak baik dan kurang sopan sekaligus pertanda
semakin merosotnya kemampuan berbahasa Indonesia di kalangan generasi muda.
B.
Perumusan Masalah
1.Apa itu bahasa
alay ?
2.Apa yang menyebabkan adanya bahasa alay ?
3.Bagaimana cara mencengah berkembang nya bahasa alay ?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.Agar mengetahui awal
mula nya bahasa alay
2.Menerapkan peran
mahasiswa dalam mengatasi bahasa alay
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian
bahasa
Secara umum bahasa dapat didefinisikan sebagai lambang
atau simbol. Pengertian lain dari bahasa adalah alat komunikasi yang dihasilkan
oleh alat ucap pada manusia. Perludiketahui bahwa bahasa terdiri dari kata-kata
atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu hubungan abstrak
antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili kumpulan
kata atau kosakata itu. Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang
kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitu saja, melainkan mengikuti
aturan yang ada. Untuk mengungkapkan gagasan,pikiran atau perasaan ita harus
memiliki kata-kata yang tepat barulah kita mulai menyusunnya.
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan
sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah
alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk
menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi
sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi,
bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.
Bahasa pun mepunyai beberapa pengertian yang
didefinisikan oleh para ahli, berikut ini mengenaipenjelasan pengertian dari
beberapa ahli mengenai bahasa. .
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001:88) Bahasa adalah sistem bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001:88) Bahasa adalah sistem bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
Menurut
Carrol, Bahasa adalah sebuah sistem
berstruktural mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka,
yang digunakan, atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh
sekelompok manusia dan yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda,
peristiwa-peristiwa, dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia.
Pada waktu kita berbicara
atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun
begitusaja, melainkan mengikuti aturan yang ada.Untuk mengungkapkan
gagasan, pikiran atau perasaan, kitaharus memilih kata-kata yang tepat dan
menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa. Seperangkataturan yang
mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai pedoman berbahasa
inilah yangdisebut tata bahasa.
B.Makna Alay
Alay berasal dari kata Anak Layangan. Bahasa Alay bisa
dikatakan bahasa kampungan, karena memang bahasa tersebut sungguh-sungguh tidak
mengenal etika berbahasa dan biasanya yang bermain layangan adalah anak-anak
kampung (orang kota juga sering, namun kota pinggiran). Apabila kalangan remaja
mengunakan bahasa Alay secara tidak langsung telah melecehkan lawan bicara
mereka baik secara tulisan ataupun lisan Pada umumnya bahasa alay
lebih nampak dalam bentuk tulisan.
Alay,
Alah lebay, Anak Layu, atau Anak kelayapan yang menghubungkannya dengananak
Jarpul (Jarang Pulang). Tapi yang paling santera adalah anak layangan.
Dominannya, istilah ini untuk menggambarkan anak yang sok keren, secara
fashion, karya (musik) maupun kelakuan secara umum.Konon asal usulnya,
alay diartikan “anak kampong” karena anak kampung yang rata-rata berambut merah
dan berkulit sawo gelap karena kebanyakan main layangan.
Salah satu cirri dari alay tersebut adalah tulisannya
yang aneh dan di luar nalar serta akal sehat. Di sini Penulis akan
mengklasifikasikan alay-alay kebeberapa tingkatan atau strata menurut dari
tulisan mereka (di sini saya bukan mau membahas alay dari wajah atau
penampilannya, wajah adalah pemberian dari Tuhan yang merupakan anugerah untuk
manusia. Kalau tulisan emang biasanya dibuat oleh para alay itu sendiri).
Tulisan gaya alay biasa dengan mudah ditemukan diblog dan
forum di internet. Semua kata dan kalimat ‘dijungkir balikkan’ begitu saja
dengan memadukan huruf dan angka.Penulisan gaya alay atau anak lebay tidak
membutuhkan standar baku atau panduan khusus, semua dilakukan suka-suka dan
bebas saja.Sepertinya inilah tren generasi alay.
Menurut definisi Koentjara
Ningrat, Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin
diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah
gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup
mengganggu masyarakat dunia maya
(baca: Pengguna internet sejati,kayak blogger dan kaskuser).
Diharapkan sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat
sekitar.[7]
C.Bahasa alay dalam jejaring sosial
Alay adalah singkatan dari Anak layangan, Alah lebay,
Anak layu atau Anak kelayapan yang menghubungkannya dengan anak jarpul (Jarang
Pulang). Tapi yang paling terkenal adalah Anak layangan.Dominannya,istilah ini
menggambarkan anak yang menganggap dirinya keren secara gaya busananya.
Pesatnya perkembangan teknologi dizaman modern ini
,penggunaan jejaring sosial lewat internet ini banyak diminati kalangan remaja.
Jumlah pengguna bahasa Alay menunjukkan semakin akrabnya genersai muda
Indonesia dengan dunia maya tersebut. Munculnya bahasa Alay juga menunjukkan
adanya perkembangan zaman yang dinamis, karena suatu bahasa harus menyesuaikan
dengan masyarakat penggunanya agar tetap eksis.
Akan tetapi, munculnya bahasa Alay juga merupakan sinyal
ancaman yangsangat serius terhadap bahasa Indonesia dan pertanda semakin
buruknya kemampuan berbahasa generasi muda zaman sekarang. Dalam ilmu
linguistik memang dikenal adanya beragam-ragam bahasa baku dan tidak baku.
Bahasa baku biasnya digunakan dalm acara-acara yang kurang formal. Akan tetapi
bahasa Alay merupakan bahasa gaul yang tidak mengindah.
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa Alay untuk
generasi muda saat ini sudah sangat tidak mnegindahkan efesiensi, melainkan
hanya sekedar trend belaka (Misbakhul Munir, Guru SD Al-Azhar Syifa Budi,
Solo).Secara garis besar, mungkin karena salah pergaulan, maka yang merupakan
ciri-ciri alay adalah sebagai berikut.
1.Pada account facebook atau friendster,
bagi yang cewek di album fotonya memajang cowok-cowok ganteng meskipun tidak
kenal supaya dianggap cantik dan gaul. Untuk yang cowok, majang foto cewek
semua walau tidak kenal agar disangka cowok ganteng.
2.Suka ngirim ‘status’ tidak jelas di yahoo,
Friendster ataufacebook :”akkoonlenndhdcnniih” ato “ayokk perang cummendh
cmmasa iia”
3.Menganggap dirinya eksis di Friendster atau Facebook
atau Multiply (kalau comments banyak berarti anak gaul,
menjadi lomba banyak-banyakan comment)
4. Kalau ada org yang hanya melihat profil user di
jejaring sosial,lalu mengirim testimonial: “hey cuman view nih?”
ataau “heey jgn cuman view doang,add dong!
6.Nama profil jejaring social mengagung-agungkan dirinya
sendiri, seperti: pRinceSscuTez, sHaluccU, cAntieqq, dan lain-lain.
Dari ciri-ciri diatas,dapat diketahui bahwa bahasa alay
sudah berkembang pesat dijejaring sosial terutama facebook dan twitter.
D.Bahasa alay dalam jejaring sosial yang marak dikalangan
Mahasiswa
Bahasa gaul adalah dialek bahasa Indonesia nonformal yang
digunakan oleh komunitas tertentu atau di daerah tertentu untuk pergaulan
(KBBI, 2008: 116). Bahasa gaul identik dengan bahasa percakapan (lisan). Bahasa
gaul muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan teknologi
komunikasi dan situs-situs jejaring social. Bahasa gaul pada umumnya digunakan
sebagai sarana komunikasi di antara remaja/mahasiswa sekelompoknya selama kurun
tertentu. Hal ini dikarenakan, remaja memiliki bahasa tersendiri dalam
mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja
untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau
agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Masa
remaja memiliki karakteristik antara lain petualangan, pengelompokan, dan
kenakalan. Ciri ini tercermin juga dalam bahasa mereka. Keinginan untuk membuat
kelompok eksklusif menyebabkan mereka menciptakan bahasa rahasia (Sumarsana dan
Partana, 2002:150).
Menurut Owen (dalam
Papalia: 2004) remaja mulai peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda.
Mereka menyukai penggunaan metafora, ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk
mengekspresikan pendapat mereka. Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan
baru yang sifatnya tidak baku. Bahasa seperti inilah yang kemudian banyak
dikenal dengan istilah bahasa gaul.Di samping merupakan bagian dari
proses perkembangan kognitif, munculnya penggunaan bahasa gaul juga merupakan
ciri dari perkembangan psikososial remaja.
Menurut
Erikson (1968), remaja memasuki
tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal
yang dominan terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan
identitas. Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas
sendiri yang terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa.
E.Penggunaan
Bahasa Indonesia di Kalangan Mahasiswa
Menurut
saya penggunaan Bahasa Indonesia
dikalangan mahasiswa belum sefasih ketika mahasiswa menggunakan bahasa
informal. Ini karena kurangnya mahasiswa berbahasa Indonesia yang baik dan
benar dalam kehidupan sehari-harinya. Bahkan didalam diri mereka timbul suatu
ketidakwajaran ketika berbahasa Indonesia yang baku. Padahal sangatlah wajar
apabila mahasiswa selaku penerus bangsa dapat menggunakan bahasa nasionalnya
dan menunjukan identitas sebagai Bangsa Indonesia. Bagaimana bisa maju suatu
negara apabila tidak bisa menunjukan jatidirinya ? Ada beberapa hal yang saya
amati mengapa Bahasa Indonesia baku menjadi sebuah anomali bagi pelajarnya
sendiri.
Pertama, kurangnya peran dari pendidik. Arti pendidik
disini tidak hanya di sekolah saja tetapi juga dari keluarga dan masyarakat. Di
lingkungan keluarga, orang tua cenderung tidak mempermasalahkan Bahasa
Indonesia yang digunakan anak-anaknya sejak kecil. Misalnya mereka hanya
terpaku pada nilai matematika, sains atau pun bahasa Inggris. Asalkan bisa
berkomunikasi, bahasa tidak menjadi masalah. Ironisnya, kurangnya peran
pendidik berasal dari guru Bahasa Indonesianya sendiri. Memang Bahasa Indonesia
telah dipelajari sejak usia sekolah dasar, tetapi guru hanya mengajar cara
berbahasa Indonesia yang baik dan benar bukan mendidik cara berbahasa Indonesia
yang baik dan benar. Bahasa Indonesia hanya sebuah pelajaran bukan pendidikan,
hanya formalitas dan bukan untuk diterapkan. Secara tertulis kita sering
membaca kalimat “Wajib Berbahasa
Indonesia Sesuai EYD” tetapi secara kasat mata “Jauhkan Dari Jangkauan Anak-
anak”.
Kedua, kurangnya kesadaran dari mahasiswanya sendiri.
Identik dengan remaja dewasa, mahasiswa masih mempunyai ego sehingga mereka
merasa canggung berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam pergaulannya.
Bahkan mahasiswa lebih memilih untuk menguasai Bahasa Inggris yang dianggap
lebih hebat daripada Bahasa Indonesia dan beralasan untuk mengikuti
perkembangan zaman. Alasan tersebut memang tidak bisa dipungkiri tetapi
alangkah baiknya jika menguasai Bahasa Indonesia yang baik dan benar dulu.
Ketiga, anggapan Bahasa Indonesia baku sebagai bahasa
panti jompo. Ini disebabkan karena peran dari media baik cetak maupun
elektronik sering berkomunikasi dengan menggunakan bahasa informal yang
dibawakan oleh ikon-ikon artisnya sehingga orang yang mengidolakan artis
tersebut suka menirukan apa yang idola mereka lakukan. Contohnya Laura Syndrome
yang gejalanya menirukan gaya ala Cinta Laura . Jadi jika suatu acara
menggunakan bahasa formal, maka acara tersebut membosankan untuk disimak. Jadi
untuk memaksimalkan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dikalangan
mahasiswa sangat sulit dilaksanakan. Apabila pendidikan mau memaksimalkan
penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari
dikalangan mahasiswa sekarang, mungkin sudah terlambat. Seharusnya program
seperti ini dilaksanakan sejak usia dini agar dapat terbiasa berbahasa
Indonesia yang baik dan benar.
F.Dampak yang
ditimbulkan dari bahasa alay jika mahasiswa tidak berperan membiasakan
berbahasa Indonesia.
1.Eksistensi Bahasa Indonesia Terancam Terpinggirkan Oleh Bahasa Gaul
Berbahasa sangat erat kaitannya dengan budaya sebuah generasi.
Kalau generasi negeri ini kian tenggelam dalam pudarnya bahasa Indonesia yang
lebih dalam, mungkin bahasa Indonesia akan semakin sempoyongan dalam memanggul
bebannya sebagai bahasa nasional dan identitas bangsa.Dalam kondisi demikian,
diperlukan pembinaan dan pemupukan sejak dini kepada generasi muda agar mereka
tidak mengikuti pembusukan itu. Pengaruh arus globalisasi dalam identitas
bangsa tercermin pada perilaku masyarakat yang mulai meninggalkan bahasa
Indonesia dan terbiasa menggunakan bahasa gaul. Saat ini jelas di masyarakat
sudah banyak adanya penggunaan bahasa gaul dan hal ini diperparah lagi dengan
generasi muda Indonesia juga tidak terlepas dari pemakaian bahasa gaul.
2.Menurunnya Derajat Bahasa Indonesia
Karena bahasa gaul yang begitu mudah untuk digunakan
berkomunikasi dan hanya orang tertentu yang mengerti arti dari bahasa gaul,
maka remaja lebih memilih untuk menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa
sehari-hari. Sehingga bahasa Indonesia semakin pudar bahkan dianggap kuno di
mata remaja dan juga menyebabkan turunnya derajat bahasa indonesia.
3.Menyulitkan
Pemakaian Bahasa Indonesia
Penggunaan bahasa gaul dapat mempersulit penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Padahal di sekolah atau di tempat kerja, kita diharuskan untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak mungkin jika pekerjaan rumah, ulangan atau tugas sekolah dikerjakan dengan menggunakan bahasa gaul. Karena, bahasa gaul tidak masuk ke dalam tatanan bahasa akademis. Begitu juga di kantor, laporan yang kita buat tidak diperkenankan menggunakan bahasa gaul. Jadi, ketika situasi kita dalam situasi yang formal jangan menggunakan bahasa gaul sebagai komunikasi.
Penggunaan bahasa gaul dapat mempersulit penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Padahal di sekolah atau di tempat kerja, kita diharuskan untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak mungkin jika pekerjaan rumah, ulangan atau tugas sekolah dikerjakan dengan menggunakan bahasa gaul. Karena, bahasa gaul tidak masuk ke dalam tatanan bahasa akademis. Begitu juga di kantor, laporan yang kita buat tidak diperkenankan menggunakan bahasa gaul. Jadi, ketika situasi kita dalam situasi yang formal jangan menggunakan bahasa gaul sebagai komunikasi.
4.Mengganggu Pemahaman
Bahasa Bagi Orang Lain
Bahasa gaul dapat mengganggu siapapun yang membaca dan mendengar kata-kata yang termaksud di dalamnya. Karena, tidak semua orang mengerti akan maksud dari kata-kata gaul tersebut. Terlebih lagi dalam bentuk tulisan, sangat memusingkan dan memerlukan waktu yang lebih banyak untuk memahaminya.
Bahasa gaul dapat mengganggu siapapun yang membaca dan mendengar kata-kata yang termaksud di dalamnya. Karena, tidak semua orang mengerti akan maksud dari kata-kata gaul tersebut. Terlebih lagi dalam bentuk tulisan, sangat memusingkan dan memerlukan waktu yang lebih banyak untuk memahaminya.
5.Menjadi Salah Satu
Penyebab Punahnya Bahasa Indonesia Penggunaan bahasa gaul yang semakin marak di
kalangan remaja merupakan sinyal ancaman yang sangat serius terhadap bahasa
Indonesia dan pertanda semakin buruknya kemampuan berbahasa generasi muda.
G.Hal yang dapat dilakukan mahasiswa agar bahasa alay tidak menyebar.
G.Hal yang dapat dilakukan mahasiswa agar bahasa alay tidak menyebar.
1.Gunakan Bahasa indonesia dalam setiap berkomunukasi
Dalam melakukan komunikasi hendaknya para mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar baik dalam lingkup lingkungan formal maupun non formal.Biasakan bertegur sapa dengan bahasa Indonesia seperti menyapa temen dengan baik jangan mengunakan bahasa alay saat menyapa teman,kurangi menggunakan bahasa alay dalam setiap kali berbicara dengan temen sebaya hal tersebut memiliki peran penting dalam mengatasi maraknya bahasa alay.
Dalam melakukan komunikasi hendaknya para mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar baik dalam lingkup lingkungan formal maupun non formal.Biasakan bertegur sapa dengan bahasa Indonesia seperti menyapa temen dengan baik jangan mengunakan bahasa alay saat menyapa teman,kurangi menggunakan bahasa alay dalam setiap kali berbicara dengan temen sebaya hal tersebut memiliki peran penting dalam mengatasi maraknya bahasa alay.
2.Gunakan bahasa
Indonesia dari pada bahasa alay dalam mengirim pesan
Kebanyakan dikalangan mahasiswa jika menulis pesan masih menggunakan bahasa alay dan bahasa yang di singkat-singkat hal tersebut dapat memberikan dapak besar terhadap tersebarnya bahasa alay dalam ruang lingkup yang luas,gunakanlah tanda baca dan bahasa yang benar saat mengirim pesan melalui sosisal media.Karena hal tersebut memiliki dampak yang baik terhadap diri kita dan penerima pesan agar tidak menggunakan bahasa alay.
3.Jangan pernah mencampur bahasa Indonesisa dengan bahasa alay
Kebanyakan dikalangan mahasiswa jika menulis pesan masih menggunakan bahasa alay dan bahasa yang di singkat-singkat hal tersebut dapat memberikan dapak besar terhadap tersebarnya bahasa alay dalam ruang lingkup yang luas,gunakanlah tanda baca dan bahasa yang benar saat mengirim pesan melalui sosisal media.Karena hal tersebut memiliki dampak yang baik terhadap diri kita dan penerima pesan agar tidak menggunakan bahasa alay.
3.Jangan pernah mencampur bahasa Indonesisa dengan bahasa alay
Ketika anda berbicara jangan
mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa alay maupun bahasa Inggris karena
hal tersebut dapat merusak citra bahasa indonesia,serta dapat menurunkan
derajat bahasa Indonesia,sebagai mahasiswa kita harus dapat mencintai bahasa
negara kita sendiri untuk itulah jangan pernah mencampur-campur bahasa
indonesia dengan bahasa negara manapun,gunakanlah bahasa indonesia dengan baik
dan benar dengan tidak mempermainkan bahasa indonesia.
4.Guanakan bahasa
Indonesia pada lingkungan sekitar
Hal tersebut dapat memicu kurangnya
penggunaan bahasa alay dalam lingkungan sekitar kita baik dalam lingkungan
masyarakat maupun lingkungan keluarga,ajarkanlah bahasa Indonesia yang baik dan
benar kepada keluarga kita maupun masyarakat,ajak mereka terbiasa menggunakan
bahasa indonesia yang baik serta gunakanlah bahasa indonesia yang baik dari
mulai bangun tidur sampai menjalankan aktivitas sehari-hari.
H. Pemakaian bahasa
Indonesia Pemakaian bahasa indonesia memiliki ragam yang bervariasi sesuai
dengan situasi dan kondisi.
Hal ini senada dengan
yang dituturkan oleh A. Chaer, dkk (2004: 23), bahwa Variasi muncul karena
pemakai bahasa memerlukan alat komunikasi yang sesuai dengan situasi dan
kondisi. Berikut akan dibahas variasi bahasa yang dilihat sebagai akibat adanya
keragaman sosial penutur bahasa dan keragaman fungsi bahasa tersebut. Jadi
variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan
keragaman fungsi bahasa. Macam-macam variasi bahasa
(ferdinan01.blogspot.com/2009/02), yaitu:
1. Variasi berdasarkan fungsinya atau dari segi pemakaian Variasi bahasa berkenaan dengan penggunanya, pemakainya atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam atau 268 Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa UNIB 2015 register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, pertanian, militer, pelayaran, pendidikan, dsb.
2. Variasi dari segi keformalan Menurut Martin Joos, variasi bahasa dibagi menjadi lima macam gaya (ragam), yaitu: a. Ragam beku (frozen) adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi khidmat dan upacara resmi. Misalnya, dalam khotbah, undang-undang, akte notaris, sumpah, dsb.
3. Variasi dari segi sarana Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Dalam hal ini dapat disebut adanya ragam lisan dan tulis. a. Ragam lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. b. Ragam tulis adalah ragam bahasa yang digunakan melalui media tulis, tidak terkait ruang dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur sampai pada sasaran secara visual. Ragam bahasa ini dipengaruhi oleh bentuk, pola kalimat. Dengan mengetahui ragam bahasa dan variasi berbahasa kita dapat memahami adanya keragaman berbahasa di Indonesia. Hal ini hendaknya dijadikan sarana pembelajaran agar dapat berbahasa dengan baik dan benar serta mampu menggunakannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat. E. Keberadaan bahasa Indonesia Keberadaan berasal dari kata “ada” yang artinya “hadir, kelihatan, berwujud sesuatu baik benda maupun manusia menyangkut apa yang dialami dalam kehidupan”, (Novi Sri P, 2009: 6)
I.
Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Variasi “bahasa” Alay
1. Perkembangan IPTEK
Perkembangan IPTEK
dianggap sebagai faktor utama yang mempengaruhi perkembangan variasi “bahasa”
Alay di kalangan remaja Indonesia. Seperti yang telah disinggung sebelumnya,
bahwa variasi “bahasa” Alay pada awalnya dipakai untuk mengirim SMS dan
kemudian berkembang di dunia maya. Internetlah yang paling berperan terhadap
perkembangan variasi “bahasa” Alay. Variasi “bahasa” Alay secara khusus
berkembangan pesat di dunia maya. Terbukti dalam beberapa tahun terakhir
situs-situs di internet, mulai dari situs resmi pemerintah seperti departemen
pendidikan hingga situs pribadi (blog) berlomba-lomba untuk menguak dan
membahas mengenai fenomena variasi “bahasa” Alay ini. Dengan adanya
artikel-artikel di situs- situs tersebut membuat banyak orang menyadari bahwa
di antara pembaca artikel tersebut mengaku sebagai pengguna variasi “bahasa”
Alay.
2. Media Cetak dan Elektronik Media cetak dan
elektronik
secara tidak langsung juga mempengaruhi
perkembangan variasi “bahasa” Alay di kalangan remaja. Namun, perkembangannya
tidak sepesat di media internet, karena media cetak dan elektronik mempunyai
kode etik tersendiri untuk memberdayakan masyarakat. Tapi itu tidak berarti,
media cetak 95 (khususnya) tidak pernah menampilkan atau menerbitkan sesuatu
yang berbau Alay. Seperti yang ditulis pada situs www.uniqpost.com, bahwa dalam
beberapa edisi terdapat koran dengan terbitan variasi “bahasa” Alay.
3. Band/ Artis Favorit
Adanya musisi favorit juga mempengaruhi
keberadaan anak-anak Alay. Setidaknya mereka meniru gaya berpakaian musisi
favoritnya. Dari beberapa sumber di internet, sebagian besar masyarakat
berpendapat bahwa musisi/band favorit yang termasuk dalam ciri-ciri Alay adalah
Kangen Band, ST 12, dan sejenisnya yang membawa aliran musik pop melayu.
Kesetiaan para fans terhadap musisi favoritnya diperlihatkan dengan cara
mengikuti gaya dan style mereka.
J.
Implikasi Variasi “bahasa” Alay terhadap Perkembangan dan Pengembangan Bahasa
Indonesia
Dapat dikatakan bahwa
di Indonesia terdapat situasi diglosia dalam pemakaian bahasa Indonesia.
Situasi inilah yang menyebabkan adanya perbedaan cukup besar antara ragam
tulisan dan ragam lisan yang ada pada pihak yang satu dan ragam lisan pada
pihak yang lain. Jika sebagian penutur mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah
bahasa yang mudah, dapat
dikatakan ia merujuk pada ragam bahasa yang rendah, namun jika penutur tersebut mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah sulit, maka yang dimaksud adalah ragam bahasa pokok/baku (Moeliono, 1981: 90). Jadi secara tidak langsung, variasi “bahasa” Alay merupakan salah satu bentuk situasi diglosia yang terjadi di Indonesia, karena variasi “bahasa” Alay merupakan bahasa minoritas. Hal ini tidak berarti bahwa variasi “bahasa” Alay merupakan bahasa kaum jelata, karena pada kenyataannya variasi “bahasa” Alay juga banyak digunakan oleh masyarakat akademis, yakni kalangan pelajar remaja. Oleh sebab itulah, pada poin ini akan dibicarakan mengenai implikasi/pengaruh penggunaan variasi “bahasa” Alay yang digunakan oleh kalangan remaja Indonesia.
dikatakan ia merujuk pada ragam bahasa yang rendah, namun jika penutur tersebut mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah sulit, maka yang dimaksud adalah ragam bahasa pokok/baku (Moeliono, 1981: 90). Jadi secara tidak langsung, variasi “bahasa” Alay merupakan salah satu bentuk situasi diglosia yang terjadi di Indonesia, karena variasi “bahasa” Alay merupakan bahasa minoritas. Hal ini tidak berarti bahwa variasi “bahasa” Alay merupakan bahasa kaum jelata, karena pada kenyataannya variasi “bahasa” Alay juga banyak digunakan oleh masyarakat akademis, yakni kalangan pelajar remaja. Oleh sebab itulah, pada poin ini akan dibicarakan mengenai implikasi/pengaruh penggunaan variasi “bahasa” Alay yang digunakan oleh kalangan remaja Indonesia.
1. Implikasi Struktural
(Morfologi, Sintaksis, Leksikon dan Ortografis) Implikasi secara struktural
dalam hal ini berkaitan dengan struktur penggunaan dalam variasi “bahasa” Alay.
Variasi “bahasa” Alay dapat dikategorikan sebagai ragam bahasa nonbaku, oleh
sebab itu struktur dan bentuk variasi “bahasa” Alay agak menyimpang dari ragam
tata bahasa baku. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa variasi
“bahasa” Alay dapat dikategorikan sebagai salah satu peristiwa diglosia pada
bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan karena variasi “bahasa” Alay merupakan
bahasa Indonesia yang di-Alay-kan. Variasi “bahasa” Alay sebagai salah satu
peristiwa diglosia dalam bahasa Indonesia, artinya karena di dalam bahasa
Indonesia tersebut terdapat variasi “bahasa” Alay (bahasa Indonesia yang
di-Alay-kan) sehingga variasi “bahasa” Alay tersebut mempunyai peran dan fungsi
tertentu dalam masyarakat (khususnya kalangan remaja/minoritas) yang mengiringi
peran dan fungsi bahasa dalam masyarakat (mayoritas). Adanya peran dan fungsi
yang berbeda tersebut itulah yang mengakibatkan bentuk dan struktur variasi
“bahasa” Alay tidak sesuai dengan standar pembakuan bahasa dalam bahasa
Indonesia. Meskipun tidak menutup kemungkinan mengenai adanya inovasi berbahasa
dalam komunitas tertentu, dan telah disepakati oleh masyarakat maka akan
terjadi evolusi bahasa dengan mengadopsi/mengadaptasi kata-kata dalam variasi
“bahasa” Alay. Secara garis besar, implikasi/pengaruh struktural dari variasi
“bahasa” Alay ke dalam bahasa Indonesia tidak seharusnya terjadi karena
struktur pembentukan variasi “bahasa” Alay tidak sesuai dengan kaidah atau
syarat kebakuan bahasa Indonesia, yakni (1) sifat intrinsik bahasa (kemantapan
dan keseragaman kaidah); (2) fungsi bahasa tersebut dalam kebudayaan masyarakat
bahasa; serta (3) sikap masyarakat bahasa terhadap bahasa tersebut (Moeliono,
1981: 109-114) Pertama, sifat intrinsik bahasa, yakni kemantapan dan
keseragaman kaidah bahasa. Secara jelas telah penulis paparkan mengenai
pola/kaidah pembentukan kata dalam variasi “bahasa” Alay, di mana
pembentukannya lebih kepada sifat kesewenang-wenangan pengguna yang
bersangkutan. Artinya, tidak ada batasan yang benar-benar jelas mengenai kaidah
pembentukan kata dalam variasi “bahasa” Alay. Sebagai contoh penulisan kata
kalau yang ditulis kalo atau klw atau low. Kedua, fungsi bahasa tersebut dalam kebudayaan
masyarakat bahasa. Dapat dilihat bahwa variasi “bahasa” Alay tidak mempunyai
kedudukan sama sekali dalam kebudayaan masyarakat bahasa secara luas. Variasi
“bahasa” Alay hanya mempunyai peran dan fungsinya dalam masyarakat bahasa
secara minoritas, yakni komunitas Alay. Ketiga, sikap masyarakat bahasa
terhadap bahasa tersebut. Makna dari poin ketiga ini telah diuraikan secara
eksplisit pada poin kedua di atas. Menurut salah satu surat kabar (Pikiran
Rakyat dalam uniquepost.com) yang mengadakan poling terhadap penggunaan variasi
“bahasa” Alay, sebagian masyarakat bahasa (remaja) di Indonesia mengaku tidak
menyukai adanya penggunaan variasi “bahasa” Alay yang rumit dan lebay yang
bukan mempermudah tetapi malah mempersulit pembaca. Walaupun tidak sedikit pula
masyarakat bahasa (remaja) tersebut yang mengaku menggunakan variasi “bahasa”
Alay tersebut. Dengan adanya fungsi-fungsi tertentu dalam penggunaan variasi
“bahasa” Alay, setidaknya masyarakat bahasa yang bersangkutan dapat mengetahui
bahwa ragam bahasa ini merupakan ragam bahasa yang hanya sesaat saja, namun
tidak dapat dipungkiri bila beberapa tahun ke depan, bahasa yang semacam ini
akan muncul kembali bahkan dengan varietas- varietas bahasa yang lebih beragam
lagi. Seperti yang terjadi pada bahasa gaul yang booming pada tahun 80-an,
hingga sekarang beberapa kosakata yang termasuk dalam kosakata bahasa masih
kerap digunakan oleh para muda Indonesia.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tata bahasa indonesia pada
saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat Indonesia khususnya para
remaja, sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya
penggunaan bahasa baru yang mereka anggap sebagai kreativitas . Jika mereka
tidak menggunakannya, mereka takut dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul.
Salah satu dari penyimpangan bahasa tersebut diantaranya adalah digunakannya
bahasa Alay. Sehingga banyak aspek yang harus segera diperbaiki dan
dibenahi.Bahasa Alay secara langsung maupun tidak telah mengubah masyarakat
Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.Untuk
itulah sebagai mahasiswa kita harus
memiliki peran yang besar dalam membudayakan berbahasa indonesia agar bahasa
alay tidak mengancam kepunahan bahasa indonesia.
Saran
Sebaiknya bahasa Alay dipergunakan pada situasi yang
tidak formal seperti ketika kita sedang berbicara dengan teman. Atau pada
komunitas yang mengerti dengan sandi bahasa Alay tersebut. Kita boleh menggunakannya,
akan tetapi jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia. Karena
bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi kenegaraan dan lambang dari identitas
nasional, yang kedudukannya tercantum dalam Sumpah Pemuda dan UUD 1945 Pasal 36
sebagai bahasa Pesatuan bahasa Indonesia.
Sebenarnya sah-sah saja bagi mereka (terutama remaja)
yang menggunakan bahasa alay, karena hal tersebut merupakan bentuk kreatifitas
yang mereka buat. Namun sebaiknya penggunaan bahasa alay dapat digunakan sesuai
dengan situasi dan kondisi atau tidak digunakan pada situasi-situasi yang
formal. Misalnya pada saat berbicara dengan teman. Teman disini adalah mereka
yang mengetahui dan mengerti bahasa alay tersebut. Tetapi juga jangan sampai
menghilangkan budaya berbahasa Indonesia kita. Karena biar bagaimanapun bahasa
Indonesia tetap menjadi bahasa kebanggaan kita dan wajib untuk dijaga serta
dilestarikan.
Daftar Pustaka
Komentar
Posting Komentar